Jumat, 30 Juli 2010

Perkembangan Teknologi Komunikasi di Indonesia ( Radio )

Perkembangan Teknologi Komunikasi di Indonesia ( Radio ) : Dalam tulisan kali ini saya akan mengulas sejarah teknologi komunikasi di Indonesia, dalam hal ini yaitu perkembangan radio di Indonesia.

Di Indonesia kita semua pasti menganal Radio Replubik Indonesia (RRI), namun tidak banyak yang tahu sejarah radio di Indonesia, dalam tulisan ini saya akan memberikan informasi mengenai sejarah awal radio di Indonesia dan juga sejarah RRI.

Sejarah Radio di Indonesia
Pada tahun 1933 Mangkunegoro VII dan Sarsito Mangunkusumo mendirikan SRV (Soloscche Radio Vereenging) di Surakarta. SRV sebagai pelopor timbulnya siaran radio yang diusahakan oleh bangsa Indonesia Sendiri. Sedangkan siaran radio pertama diusahakan oleh Hindia Belanda berdiri tanggal 16 Juni 1925 bernama BRV (Batavia Radio Vereenging).

Teknologi Komunikasi dan Budaya

Saat ini kebutuhan akan teknologi, baik itu teknologi informasi maupun telekomunikasi sangat tinggi dari mulai golongan menengah kebawah dan golongan menengah ke atas. Semua individu sangat membutuhkan teknologi untuk mempercepat perkembangan atau meningkatkan pembangunan baik pembangunan individu maupun kelompok.Perkembangan teknologi yang saat ini sangat cepat adalah teknologi telekomunikasi, yang menghadirkan beragam pilihan bentuk teknologi dan kecanggihannya. Saat ini terjadi persaingan yang ketat antara 2 teknologi komunikasi yaitu selular dan FWA (fixed Wireless Access).Adapun perkembangan teknologi komunikasi terutama teknologi selular sudah di mulai sejak pertengahan tahun 90 an dengan mengusung teknologi 1G (Generasi Pertama) dengan menggunakan teknologi AMPS (Advance Mobile Phone System). Dimana teknologi AMPS ini pertama kali dipergunakan oleh pihak militer di Amerika Serikat.

Perkembangan Teknologi Komunikasi di Indonesia

Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia sampai dengan saat ini berkembang dengan pesat seiring dengan penemuan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi dan Komunikasi sehingga mampu menciptakan alat-alat yang mendukung perkembangan Teknologi Informasi, mulai dari sistem komunikasi sampai dengan alat komunikasi yang searah maupun dua arah (interaktif). 

Cyber Crime

Cyber Crime : Dalam tulisan ini,saya akan menjelaskan sedikit menganai cyber crime atau yang biasa kita kenal dengan istilah kejahatan di dunia maya. Kejahatan dunia maya / cybercrime adalah istilah yang mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer menjadi alat, sasaran atau tempat terjadinya kejahatan. Termasuk ke dalam kejahatan dunia maya antara lain adalah penipuan lelang secara online, pemalsuan cek, penipuan kartu kredit, confidence fraud, penipuan identitas, pornografi anak, dll.

Walaupun kejahatan dunia maya atau cybercrime umumnya mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer sebagai unsur utamanya, istilah ini juga digunakan untuk kegiatan kejahatan tradisional dimana komputer atau jaringan komputer digunakan untuk mempermudah atau memungkinkan kejahatan itu terjadi.

PUISI DOA ORANG LAPAR



WS. RENDRA

Kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak bagai awan yang hitam

Allah,!
Burung gagak menakutkan dan kelaparan adalah burung gagak selalu menakutkan
Kelaparan adalah pemberontakan, adalah penggerak gaib
Dari pisau-pisau pembunuhan yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

Kelaparan adalah batu karang dibawah wajah laut yang tidur dengan air mata
Adalah penghianatan kehormatan
Seorang pemuda yang gagah berani akan menangis tersedu-sedu
Melihat bagaimana tangannya sendiri meletakan kehormatan ditanah karena kelaparan

Kelaparan adalah iblis
Kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
Allah,!
Kelaparan adalah tangan-tangan hitam yang memasukkan segenggam tawas
Kedalam perut para miskin

Allah,!
Kami berlutut, mata kami adalah mata-Mu, ini juga mulut-Mu, ini juga hati-Mu
Dan ini juga perut-Mu, perut-Mu yang lapar ya Allah
Perut-Mu menggenggam tawas dan pecahan-pecahan gelas kaca

Allah,!
Betapa indahnya sepiring nasi panas
Semangkuk sop dan segelas kopi hitam

Allah,!
Kelaparan adalah burung gagak, jutaan burung gagak bagai awan yang hitam
Menghalangi pandanganku ke surga-Mu



by Kharida Dwi F (D1E008056)

Pesirah Empat Petulai dalam kisah "Putri Gading Cempaka"


Tersebutlah dalam sebuah kisah, pada mulanya yang memerintah di negeri Sungai Serut ini ialah seorang raja yang berasal dari Majapahit, namanya Ratu Agung. Sebagai cikal-bakal dari kerajaan Sungai Serut, konon ceritanya, Ratu Agung adalah jelmaan bangsa dewa dari Gunung Bungkuk yang mendapat tugas untuk mengatur bangsa manusia di bumi. Adapun rakyat yang diperintahkan oleh Ratu Agung ialah rakyat Rejang Sawah. Rakyatnya berperawakan tinggi, tegap, dan besar melebihi ukuran manusia pada umumnya. Disamping itu, dibagian tulang sulbinya agak sedikit menonjol yang panjangnya sekitar satu jari. Oleh sebab itulah, rakyat Ratu Agung ini juga disebut oleh orang sebagai Rejang Berekor. Sebagai jelmaan dewa dari Gunung Bungkuk, Ratu Agung tidak saja mampu memerintah dengan adil, bijak, dan penuh wibawa, tetapi juga telah berhasil membangun negeri Sungai Serut hingga menjadi negeri yang kaya dan makmur. Sebuah istana yang sangat megah juga telah didirikan di mudik kuala Sungai Serut. Di singgasana yang amat megah inilah yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan juga tempat kediaman sang Ratu Agung bersama kerabat kerajaan dan ketujuh putra-putrinya, yang terdiri atas enam laki-laki dan seorang perempuan. Anak yang pertama bernama Kelamba Api, yang juga dikenal dengan nama Raden Cili. Yang kedua bernama Manuk Mincur, dan yang ketiga bernama Lemang Batu. Yang keempat bernama Tajuk Rompong, yang kelima bernama Rindang Papan, yang keenam bernama Anak Dalam, dan yang ketujuh atau bungsu bernama Putri Gading Cempaka.
Si Bungsu nan Jelita. Selanjutnya dikisahkan, bahwa negeri Sungai Serut kian lama kian Masyhur. Bahkan nama negeri Sungai Serut pun semakin harum di negeri-negeri atau kerajaan-kerajaan manca lainnya. Terlebih lagi, keharuman nama negeri Sungai Serut ini disebabkan oleh putri bungsu yang bernama Putri Gading Cempaka yang kian hari kian tumbuh dan berkembang menjadi seorang remaja putri nan cantik jelita. Meskipun belum menginjak usia dewasa, tetapi keelokan paras Putri Gading Cempaka ini sudah terlihat dengan jelas pada usia yang masih remaja. Kecantikannya sungguh tiada taranya, bagai bidadari yang turun dari kayangan. Karena kecantikannya yang sungguh tiada bandingnya, maka banyak putra dari kaum bangsawan yang berniat untuk mempersunting sebagai pemdamping hidupnya. Akan tetapi karena saat itu si bungsu masih belum menginjak usia dewasa, maka semua pinangan yang datang menghadap Ratu Agung pun selalu ditolaknya dengan cara yang bijaksana.
Wasiat Sang Raja Bulan telah berjalan silih berganti, tahun pun terus berlari, dan juga usia manusia semakin berkurang jatahnya. Yang semula masih kanak-kanak, kemudian menjadi remaja, meningkat dewasa dan kemudian menjadi tua. Begitulah hukum alam dari Sang Pencipta yang berlaku bagi makhluk ciptaan-Nya, tanpa kecuali bangsa manusia. Demikian pula dengan sang Ratu Agung yang kian menua usianya. Pada suatu hari, Ratu Agung pun jatuh sakit karena dimakan usia yang memang sudah tua. Kian hari, sakit yang dideritanya pun tiada kunjung sembuh, bahkan kian bertambah parah saja. Sebagai raja jelmaan dari dewa yang telah menjadi manusia, nalurinya masih kuat, bahwa ajalnya tak lama lagi akan tiba. Oleh sebab itu, sebelum ajalnya tiba, sang Ratu Agung nan bijaksana itu segera memanggil ketujuh putra-putrinya. Setelah ketujuh putra–putrinya itu berkumpul sujud di sekeliling ayahandanya, syahdan bersabdalah ayahanda dengan suara pelan penuh wibawa :”Duhai anakandaku semua, kini rasanya ayahanda tiadalah kuasa hidup berlama-lama. Sebelum Ayahanda meregang jasad melepas nyawa meninggalkan dunia nan fana, maka Ayahanda hendak menitipkan dua buah wasiat kerajaan ini kepada anakandaku semua.” Mendengar sabda ayahanda sang Baginda Ratu Agung yang hendak sekarat itu, raut muka dari ketujuh putra-putrinya itu langsung lesu, memucat. Terlebih si bungsu Putri Gading Cempaka yang tak kuasa menahan gejolak emosi dalam batinnya. Dan perlahan-lahan berderailah air matanya mengucur membasahi kedua pipinya, meskipun belum tampak suara rintihan isak tangis yang keluar dari mulut mungilnya. Ayahanda Baginda Ratu Agung pun lalu melanjutkan sabdanya. “Demi menjunjung tinggi rasa keadilan, kedamaian, dan ketentraman di dalam negeri ini, maka Ayahanda berwasiat tahta kerajaan Sungai Serut ini kepada anakandaku Anak Dalam. Namun demikian Ayahanda berpesan hendaknya kalian semua tetap bersatu dalam suka maupun duka, dalam bahagia maupun derita. Adapun wasiat yang kedua adalah, apabila terjadi sesuatu hal yang menimpa negeri Sungai Serut ini, dan negeri ini sudah tidak dapat lagi dipertaruhkan, maka hendaklah kalian semua menyingkir ke Gunung Bungkuk. Di Gunung Bungkuk itulah nanti datang seorang raja yang akan menjadi jodoh anakandaku Putri Gading Cempaka.” Wasiat tahta Sungai Serut itupun kemudian diterima oleh Anak Dalam tanpa menimbulkan rasa iri hati pada saudara-saudaranya yang lebih tua. Bahkan semua saudara tuanya telah sepakat mendukung kedua wasiat ayahandanya, meskipun diliputi dengan suasana yang amat mengharukan serta menegangkan.
Kabut Duka Sungai Serut Untung tak dapat diraih, nasib pun tak dapat ditolak. Begitulah kalau ajal manusia hendak sirna kembali ke pangkuan Illahi. Setelah ayahanda Putri Gading Cempaka memberikan wasiat kerajaannya kepada Anak Dalam, maka tak seberapa lama, wafatlah sang Baginda Ratu Agung, pendiri dinasti kerajaan Sungai Serut. Melihat Sang Ayahanda Baginda Ratu Agung membisu membujur kaku, serta menutup mata, maka gemuruhlah isak tangis ketujuh putra-putrinya, yang membuat gempar seisi istana. Maka si bungsu Putri Gading Cempaka pun meratap sejadi-jadinya. Seakan si bungsu nan cantik jelita ini tak rela mengantar kepergian Ayahandanya Baginda Ratu Agung untuk selama-lamanya. Demikian buah ratapan Putri Gading Cempaka :
“Ya ayahku ratu jujungan, Tajuk mahkota lepas di tangan, Malang sangat anak gerangan, Seumur hidup mabuk kenangan,
Ayuhai ayahku ayuhai paduka ratu, Tempat bergantung anakanda satu, Sekarang anakanda tujuh piatu, Tentu bercinta setiap waktu,
Ya ayahku raja bestari, Anakanda piatu di dalam negeri, Duduk bercinta setiap hari, Pilu dan sedih menyerang diri.
Ya Ayahku yang amat kucinta, Tempat bergantung ayah semata, Sekarang patah sudahlah nyata, Karam dunia pemandangan beta.
Aduhai ayahku aduhai gusti, Meninggalkan anak sampailah hati, Jadi sesalan tiada terhenti, Kenang-kenangku sebelum mati.
Nyata anakmu berhati rindu, Ayah tiada tempat mengadu, Nasi dimakan rasa empedu, Air serasa getah mengkudu.
Isak tangis yang tiada terperi itu meriuhkan seisi istana. Kemudian menggema dan menggetarkan seluruh rakyat di negeri Sungai Serut. Kini seluruh anak negeri telah dirundung kabut duka nestapa yang amat dalam, karena Baginda Ratu Agung nan amat dicintai oleh seluruh rakyatnya telah tiada lagi di dunia. Gegap gempitalah segenap pejabat serta kerabat kerajaan, para sanak famili handai taulan, Bilal, Katib, Kadi, serta hamba kerajaan pun berdatangan serta menghatur sembah dihadapan ketujuh putra-putri kerajaan. Sementara tuan Putri Gading Cempaka terlihat masih meratapi jasad Ayahandanya yang telah terbujur kaku. Maka berkatalah salah seorang hamba kerajaan, “Ampun diperbanyak ampun, tuan Putri hari sudah tinggi, Ayah tuan harus dimandikan. Anak Dalam lalu bertitahlah kepada salah seorang mamandanya: “Mandikanlah dengan segera Mamanda, supaya jasad ayahanda dapat segera kita makamkan.“ Maka segeralah jasad ayahanda Ratu Agung itupun dimandikan melalui upacara dengan penuh khitmad sebagaimana adat istiadat bagi raja-raja yang wafat pada zaman itu.
Anak Dalam Naik Tahta Beberapa lama telah berlalu, kabut duka nestapa di negeri Sungai Serut perlahan lahan telah tersibak dengan sendirinya. Sang mentari pun telah memancarkan lagi keceriaannya meninggalkan kenangan lama yang teramat kelam. Maka segeralah Anak Dalam dinobatkan menjadi raja di Negeri Sungai Serut, menggantikan kedudukan Ayahanda Baginda Ratu Agung. Sebagai anak yang sangat patuh dan berbakti kepada orang tuanya, maka sebelum menjadi raja di negeri Sungai Serut ini, Anak Dalam selalu teringat dan mematuhi apa yang telah dipesankan oleh almarhum ayahanda Baginda Ratu Agung. Pesan ayahanda agar tujuh bersaudara tetap bersatu dalam suka maupun duka, bersama dalam derita maupun bahagia itupun selalu dipegang teguh oleh Anak Dalam. Terlebih terhadap si bungsu, adinda Putri Gading Cempaka yang sangat dicintai oleh kakanda Anak Dalam. Wasiat tahta yang telah diwariskan oleh almarhum Baginda Ratu Agung itu kepada Anak Dalam ternyata mampu dilaksanakan dengan sepenuhnya. Oleh sebab itulah raja Anak Dalam memerintah negeri Sungai Serut dengan adil dan bijaksana. Terbukti, bahwa negeri sungai Serut semasa dibawah pimpinan Anak Dalam itupun kemashyurannya tidak kalah pada masa Baginda Ratu Agung. Bahkan semakin terkenal karena si bungsu Putri Gading Cempaka kini telah beranjak dewasa dan banyaklah kaum putra bangsawan dari negeri manca yang ingin sekali meminangnya.
Pangeran Muda Aceh Terpikat Konon berita tentang keelokan Putri Gading Cempaka yang tiada bandingnya itu telah tersebar di seluruh penjuru wilayah kerajaan manca, tanpa kecuali kerajaan Aceh. Tak pelak lagi, putra mahkota kerajaan Aceh pun sangat terpikat oleh kecantikan Putri Gading Cempaka. Timbulah dalam pikiran Pangeran Muda Aceh hendak pergi ke negeri Sungai Serut untuk meminang Putri Gading Cempaka. Ketika pikiran itu telah mengganggu dalam tidurnya, maka Pangeran Muda Aceh itupun segera memutuskan untuk segera menghadap ayahanda Baginda Sultan, memohon kebawah cerpu baginda hendak berangkat ke negeri Sungai Serut. Tatkala Ayahanda Baginda Sultan melihat dari dekat guratan wajah anakanda Pangeran Muda yang penuh maksud dan asa itu, maka bertitahlah sang baginda : “Hai anakku, biji mata ayahanda, apa sebabnya maka anakanda datang dengan bermuram durja ini ? Adakah seorang dayang telah bersalah dalam melayani anakanda. Dayang dan inang pengasuh yang mana kali yang kurang melayani anakanda?” Maka segeralah Pangeran Muda itu berlutut di hadapan Baginda, seraya bersembah diri. “Ya ayahanda baginda, tiadalah kiranya kekurangan suatu apa pada anakanda, dan tiadalah seorang jua pengiring anakanda yang salah melayani anakanda,” jawab Pangeran Muda. “Kalau demikian adanya, giranglah sangat ayahanda mendengarkan perkataan biji mata ayahanda. Akan tetapi terangkanlah, hai anakku, agar ayahanda mengetahui apakah hajat anakanda datang bersembah dihadapanku ini?” Ketika didesak perkataannya oleh baginda, maka berteranglah Pangeran Muda Aceh itu kepada ayahandanya. “Ya Baginda ayahanda, adapun anakanda datang kehadapan ayahanda, tiadalah lain hendak memohon restu dari Ayahanda, agar ayahanda memberikan izin kepada anakanda yang hendak pergi berlayar ke negeri Sungai Serut. Untuk meminang Putri Gading Cempaka yang telah menjadi tambatan hati hamba. Selain daripada itu, anakanda juga ingin mengetahui adat lembaga dari negeri lain, agar kelak anakanda dalam menggantikan ayahanda telah banyak menimba pengetahuan tentang segala suatu adat negeri lain.” Setelah mendengar permintaan yang sungguh-sunguh dari Pangeran Muda itu, dengan sukacita Baginda memberikan izin kepadanya. Baginda segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan perbekalan dan segera menurunkan perahu yang terkalang dan beberapa perahu lain yang disertai dengan anak-anak muda secukupnya untuk mengiringnya. Pada keesokan harinya, bersamaan dengan terbitnya sang mentari dari ufuk timur, serta merta diiringi oleh kicauan burung yang terbang bebas menyongsong pagi nan cerah, maka berpamitanlah anak raja Aceh kepada Ayah-bundanya. Pangeran Muda Aceh pun segera berangkat ke negeri Sungai Serut hendak meminang Putri Gading Cempaka, agar kelak dikemudian hari dapat menjadi permaisuri sebagai pendamping Pangeran Muda. Dengan disertai do’a restu dari ayah-bunda, maka Pangeran Raja Muda Aceh bersama segenap hulubalang pengiringnya naik kedalam perahu, dan siaplah berlayar meninggalkan daratan tanah rencong.
Asal Nama Bangkahulu Setelah sekian lama mengarungi badai ombak lautan yang ganasnya tak terperikan baik disiang hari maupun dimalam hari, maka sampailah kiranya perahu rombongan Pangeran Muda Aceh memasuki perbatasan wilayah negeri Sungai Serut. Ketika perahu-perahu itu hendak memasuki wilayah negeri Serut, kebetulan air laut sedang dalam keadaan naik pasang. Oleh sebab itu, banyak kotoran, reba-reba serta empang-empang yang terbawa arus menghulu. Rombongan perahu Pangeran Raja Muda Aceh itupun terkejut melihat bayaknya empang menghulu yang mengganggu perahu-perahu mereka yang akan menepi. Maka berteriaklah orang-orang Aceh itu “Empang ka hulu! Empang ka hulu!” Pangeran Raja Muda Aceh segera memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan empang-empang yang menghalangi perahu-perahunya. Tampaknya hati Pangeran Raja Muda Aceh itu sangat terkesan melihat pemandangan di wilayah ini, maka Pangeran Raja Muda Aceh itu lalu menitahkan kepada para hulubalangnya agar wilayah ini diberi nama Empangkahulu. Dan sejak saat itulah orang-orang kemudian menyebut negeri Sungai Serut dengan sebutan negeri Bangkahulu. Tatkala perahu rombongan Pangeran Raja Muda Aceh itu sudah sampai di kualanya, maka dibongkarlah sauhnya, dan layar-layarnyapun digulung dan diturunkan. Sebagaimana adat kebiasaanya, maka rombongan Raja Muda Aceh itupun segera membunyikan meriam-meriamnya sebagai tanda pemberitahuan akan kedatangan tamu dari negeri luar.
Perang Besar Bunyi dentuman meriam itu cukup mengejutkan rakyat negeri Sungai Serut, tidak kecuali Anak Dalam. Maka segeralah Anak Dalam menitahkan anak-buahnya turun ke bawah untuk melihat adakah gerangan yang telah terjadi di negerinya itu. Tak seberapa lama kemudian, datanglah utusan dari anak raja Aceh yang memohon izin hendak menghadap Baginda Anak Dalam. Maka bersembahlah utusan anak raja Aceh itu seraya mengemukakan hajatnya, bahwa maksud kedatangan anak raja Aceh ke negeri Sungai Serut tiada lain adalah hendak meminang Putri Gading Cempaka. Sebagai seorang raja nan adil dan bijaksana, setelah mendengar penuturan dari utusan anak raja Aceh itu, Anak Dalam segera mengadakan mufakat kepada keenam saudara-saudaranya, terlebih kepada si bungsu Putri Gading Cempaka. Sementara itu, para utusan dari negeri Aceh dipersilahkan menunggu di luar istana barang sejenak. Tak seberapa lama, setelah diadakan mufakat diantara ketujuh saudara itu, kemudian disuruhnyalah utusan anak raja Aceh itu masuk menghadap Baginda Anak Dalam. Kemudian diberitahukan bahwa permohonan anak raja Aceh untuk meminang Putri Gading Cempaka tidak dapat di kabulkan. Pangeran Raja Muda Aceh amat marah mendengar hasil laporan dari para utusanya, bahwa hajatnya hendak meminang Putri Gading Cempaka itu ditolak. Maka segeralah Pangeran Raja Muda Aceh itu memerintahkan para hulubalang dan seluruh anak-buahnya untuk menantang perang Baginda Anak Dalam. Perang besar antara pasukan Baginda Anak Dalam dari negeri Sungai Serut dengan pasukan Pangeran Muda Aceh rupanya tidak dapat dielakkan. Genderang perang telah dibunyikan bertalu-talu oleh kedua belah pihak. Dan perang itupun terus berkobar sampai berhari-hari lamanya. Sudah banyak korban yang sudah berjatuhan, tetapi perang terus berkecamuk tak kunjung selesai. Belum diketahui pihak yang menang maupun yang kalah, tetapi bangkai-bangkai manusia terus bergelipangan dimana-mana hingga menimbulkan bau yang tak sedap. Anak Dalam dan saudara-saudaranya pun semakin tak tahan mencium bau busuk dari bangkai-bangkai manusia yang bertumpuk-tumpuk akibat peperangan. Teringat akan wasiat almarhum ayahanda Baginda Ratu Agung, maka Anak Dalam bersama keenam saudara-saudaranya segera memutuskan untuk menarik diri dan kemudian menyingkir ke gunung Bungkuk. Sementara itu, Pangeran Raja Muda Aceh bersama laskarnya yang masih hidup segera menarik diri kembali ke negeri Aceh dengan tangan hampa.
Pasirah Empat Petulai Semenjak Anak Dalam beserta keenam saudaranya meninggalkan Sungai Serut atau Bangkahulu menuju Gunung Bungkuk, negeri ini dalam keadaan kacau. Rakyatnya menjadi tidak menentu lagi karena tidak ada lagi rajanya. Berita tentang keadaan negeri Bangkahulu yang telah ditinggalkan oleh rajanya itu rupanya terdengar di telinga keempat pasirah. Adapun keempat pasirah itu masing-masing adalah : Pasirah Merigi, Pasirah Bermani, Pasirah Salupuh , dan Pasirah Jurukalung. Tidak seberapa lama, setelah mengadakan mufakat maka berangkatlah segera keempat pasirah itu dari Lebong balik bukit menuju negeri Bangkahulu hendak menjadi raja di sana. Beberapa lama kemudian, keempat pasirah itu berhasil menduduki negeri Bangkahulu. Akan tetapi setelah berhasil menguasai negeri Bangkahulu, timbulah perselisihan diantara keempat pasirah itu. Adapun yang menjadi pokok permasalahan mereka itu adalah mengenai pembagian tanah sebagai wilayah kekuasaanya. Oleh karena itu masing-masing berkehendak untuk mendapatkan bagian tanah yang lebih besar, maka pertikaian pun tidak dapat dihindarkan.
Baginda Maharaja Sakti Beruntunglah keempat pasirah itu, karena sebelum terjadinya jatuh korban diantara mereka, tiba-tiba munculah seseorang berperawakan tinggi tegap dengan pakaian kebesaranya diiringi oleh empat belas pengiringnya, mendamaikan perselisihan mereka. Keempat pasirah itupun segera menghentikan pertikaian dan menyambut kelimabelas tamunya dengan penuh suka cita . Kemudian salah seorang pemimpin rombongan tamu itu memperkenalkan diri kepada keempat pasirah itu. ”Nama hamba ini adalah Baginda Maharaja Sakti. Adapun nama daripada negeri hamba adalah Sungai Terap di Alam Minangkabau. Empat orang diantara hamba ini adalah bergelar menteri sedangkan sembilan lainnya adalah anak buah hamba, dan seorang lagi adalah panakawan hamba”. Setelah mendengar penuturan dari Baginda Maharaja Sakti itu, Keempat pesirah itu segera menjamu tamu agungnya. Baginda Maharaja Sakti pun segera melanjutkan ceritanya. ”Adapun pekerjaan hamba berjalan kelana ini karena titah oleh daulat tuanku Sultan Pagar Ruyung, Seri Maharaja Diraja. Hamba mendapat titah untuk melihat-lihat segala isi pulau Perca ini yang telah berada di bawah daulat di Pagar Ruyung.” Setelah mendengar hal ikhwal cerita dari Baginda Maharaja Sakti, maka makin bertambah suka cita keempat pasirah itu. Keempat pasirah itu kemudian bersepakat memohon kepada Baginda Maharaja Sakti supaya menjadi raja dinegeri Bangkahulu. Baginda Maharaja Sakti menjadi girang dan terharu mendegarnya. “Hamba terima permohonan tuan-tuan dengan senang hati. Sungguh permintaan tuan-tuan itu suatu gunung intan bagi hamba. Memang sudah barang semestinya, bahwa tiap-tiap kampung itu tentu ada penghulunya, tiap luhak ada larasnya, tiap-tiap negeri ada rajanya. Sedangkan dinegeri tuan-tuan ini belum lagi berdiri kerajaan. Oleh karenanya, sudah barang sepatutnya bilamana tuan-tuan mencari seorang raja yang asli yang hendak menjadi raja di negeri ini, supaya segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan adil dan bijaksana. Namun demikian, permintaan tuan itu mesti dihadapkan kepada daulat di Pagar Ruyung. Jika nanti diperkenankan oleh yang dipertuan Alam Minangkabau di Pagar Ruyung, sudah barang tentu Baginda Seri Maharaja Diraja akan menitahkan anak cucunya, atau kaum kerabatnya dari Pagar Ruyung ataupun dari Sungai Terap untuk menjadi raja disini dengan memakai segala adat kebesaran kerajaan cara Alam Minangkabau, dan memberi tanda keturunan kerajaan dari Sultan Seri Baginda Maharaja Diraja. Jikalau tuan-tuan memang bersungguh-sungguh hendak mendirikan kerajaan disini, maka sebaiknya tuan-tuan pergi menghadap daulat di Pagar Ruyung. Dan oleh karena pekerjaan hamba ini masih belum selesai, hamba mohon undur di hadapan tuan-tuan, sebab hamba hendak melanjutkan perjalanan hamba menuju selatan”. Setelah berpamitan, Baginda Maharaja Sakti bersama rombongannya itu segera berangkat meninggalkan negeri Bangkahulu. Keempat pesirah itupun mengantarkanya dengan hati yang masghul.
Menghadap Istana Pagar Ruyung Sepeninggal Baginda Maharaja Sakti, keempat pasirah itu lalu bermufakat untuk segera berangkat ke negeri Alam Minangkabau menghadap Seri Baginda Maharaja Diraja. Setelah terjadi kata sepakat, maka keempat pasirah segera berangkat ke Pagar Ruyung. Tak seberapa lama kemudian, sampailah mereka di negeri Pagar Ruyung. Keempat pasirah itu lalu menghadap Menteri Empat Balai terlebih dulu, dan setelah itu kemudian baru diterima daulat tuanku di Pagar Ruyung. Dihadapan Seri Baginda Maharaja Diraja, keempat pasirah itu bersembah diri, lalu menceritakan hal ikhwal keadaan di negeri Bangkahulu, serta mengemukaan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Mendengar persembahan keempat pesirah itu, Seri Baginda Maharaja Diraja amat bersukacita kemudian bertitah, “Hamba amat berkenan mendengar permintaan tuan-tuan hendak mendirikan kerajaan, tetapi siapakah yang akan menjadi raja di negeri tuan-tuan? Ataukah hamba yang akan menentukan orangnya”?. Keempat pasirah itupun lalu menuturkan : “ Ya tuanku syah alam, mohon diampun, bilamana hamba-hamba ini diperkenankan, hamba hendak memilih tuanku Baginda Maharaja Sakti untuk menjadi raja di negeri hamba. Karena tatkala tuanku Baginda Maharaja Sakti datang dinegeri hamba, dengan penuh adil dan bijaksana beliau telah mendamaikan pertikaian diantara hamba berempat. Maka, kemudian hamba berempat bermufakat hendak menjadikan beliau menjadi raja di negeri hamba. Namun demikian, tuanku Baginda Maharaja Sakti tiada kuasa menerima permohonan hamba berempat, karena harus berizin dahulu dengan tuanku Seri Baginda Maharaja Diraja. Oleh karena itulah, hamba berempat menghadap kemari. Hamba berempat akan menerima dengan senang hati siapa saja yang hendak dititahkan oleh yang dipertuan di Pagar Ruyung ini, niscaya hamba junjung tinggi. Mendengar penuturan yang amat tulus dari keempat pasirah itu, lalu bersabdalah Baginda, “Jikalau demikian halnya ayuhai pasirah, tunggulah barang sebentar, sebab Baginda Maharaja Sakti hingga saat ini belumlah kembali dari rantauannya”. Maka dengan senang hati keempat pasirah itupun menuruti permintaan yang dipertuan di Pagar Ruyung untuk menetap beberapa saat lamanya. Tak seberapa lama kemudian, Seri Baginda Maharaja Diraja lalu memerintahkan hulubalangnya untuk mencari Baginda Maharaja Sakti yang ketika itu masih berada di bukit Siguntang-guntang.
Perjanjian Pagarruyung Hulubalang yang diperintahkan oleh yang dipertuan di Pagar Ruyung itu telah bertemu dengan Baginda Maharaja Sakti di bukit Siguntang-guntang. Atas titah tuanku Pagar Ruyung, maka segeralah Baginda Maharaja Sakti menghadap dan bersembah diri kepada Seri Baginda Maharaja Diraja seraya menuturkan hal ikhwal tentang hasil perjalanannya. Yang dipertuan Sultan Baginda Maharaja Diraja itupun segera melepaskan hal ikhwalnya, serta mengharap agar Baginda Maharaja Sakti bersedia menjadi raja dinegeri Bangkahulu. Mendengar sabda Sultan Pagar Ruyung, lalu bersembahlah Baginda Maharaja Sakti : “Ya tuanku syah alam, senang sungguh patik mendengarkan titah tuanku, tetapi patik tiadalah mempunyai syarat-sayarat yang cukup. Oleh karena itu baiknya tuanku memilih yang lain saja. Bukankah banyak putra, atau cucu dari tuanku di dalam Pagar Ruyung ini atau di Sungai Terap yang patut dirajakan. Adapun perkataan patik ini sungguhlah bukan berkias gurindam, bukan bersanding beranjung, bukan dengki atau berkhianat, melainkan sebenar-benarnya perkataan. Mendengar penuturan dari Baginda Maharaja Sakti yang sangat tulus itu, daulat Tuanku Sri baginda Maharaja Diraja menjadi terharu. Demikian halnya dengan para menteri dan segenap hulubalang, serta keempat pasirah yang ada disekelilingnya. Suasana di balairung alam Minangkabau ketika itu juga menjadi larut dalam keheningan. Malam pun segera menjelang, permufakatan untuk sementara waktu dihentikan. Setelah berjalan tiga hari tiga malam, daulat Tuanku Sultan pun bermimpi. Beliau bermimpi, melihat suatu perarakan yang amat ramai dan menyenangkan. Dalam perarakan itu terlihat Baginda Maharaja Sakti sedang ditandu menuju hulu Bangkahulu, untuk diangkat menjadi raja di sana. Mimpi Baginda Sutan Pagar Ruyung itu sangat jelas arahnya. Maka, pada pagi harinya, Sultan segera menitahkan hulubalang memanggil Baginda Maharaja Sakti, beserta menteri empat balai, dan keempat pasirah untuk datang menghadap beliau. Daulat yang dipertuan Baginda Seri Maharaja Diraja itupun bertitah : “Pada hari ini, disaksikan oleh yang hadir dalam majelis di Balairung ini, kami mengizinkan Baginda Maharaja Sakti mendirikan kerajaan di negeri Bangkahulu.” Mendengar titah Baginda Seri Maharaja Diraja itu, keempat pasirah lalu bersuka cta. Maka Baginda Maharaja Sakti pun segera bersembah diri : “Ampun tuanku, jikalau demikian halnya, patik mohon sudilah kiranya tuanku membuatkan suatu permufakatan yang teguh antara pasirah-pasirah ini dengan rajanya, agar jangan ada perselisihan dikelak kemudian hari.” Atas permufakatan dengan keempat pasirah itu, maka dibuatkanlah sebuah permufakatan di hadapan daulat tuanku di Pagar Ruyung, disaksikan oleh menteri empat balai. Adapun isi perjanjian itu ada sepuluh butir. Inilah bunyi isi perjanjiannya :
1. Raja tinggal di pesisir laut, sedangkan pasirah, dan perowatin tinggal di hulu.
2. Wilayah pesisir laut menjadi tanggung jawab raja, sedangkan wilayah pegunungan menjadi tanggung jawab pasirah perowatin.
3. Raja atau anak cucung raja, dan kerabatnya bebas berladang atau berkebun, atau mengambil kayu pendek dan panjang di segala hutan dan rimba, dan pasirah maupun perowatin tiadalah boleh melarangnya; jikalau ada orang luar datang menumpang berladang atau berkebun, atau mengambil kayu, rotan, damar, dan segala jenis hutan, hendaklah dengan izin raja.
4. Tiap-tiap tahun, bilamana anak-buah sudah memotong padi, hendaklah mengantarkan persembahan kepada raja beras sekulak, ayam seekor, kelapa sebuah dalam satu bubungan rumah. Maka itu semua akan menjadi makanan raja. Itulah tanda anak-buah yang membuat raja, bukan raja yang minta diangkat.
5. Waktu raja mudik ke hulu, memeriksa hal anak-buah yang meminta raja, maka anak-buah harus memberi beras sekulak, kelapa sebuah, ayam segantang tunjuk banyak kakinya. Itulah makanan raja serta segala pengiringnya selama berjalan di hulu.
6. Raja atau anak cucung raja, jika raja mufakat dengan pasirah – perowatin serta memberi garam atau kain hitam. Tak dapat tiada anak-buah perowatin menolong dengan beras, dan tukarannya sekulak garam, 10 kulak beras, sebubung kain hitam begitu juga. Itulah tukon namanya.
7. Bea dari segala labuhan dan kuala semuanya raja yang punya, tidak dapat tidak oleh pasirah dan perowatin, tetapi pasirah perowatin sendiri tiada kena bea labuhan atau kuala.
8. Segala jenis perkara yang kecil, pasirah dan perowatin yang berkuasa menyelesaikannya di tanah hulu; jika perkara itu besar maka hendaklah pasirah dan perowatin membawanya kehadapan raja untuk diselesaikannya bersama-sama.
9. Orang kerap gawe dibagi dua, satu bagian oleh pasirah yang punya marga dengan perowatin yang punya dusun, dan satu bagian kembali pada raja.
10. Jikalau hilang pasirah, raja mencarikan ganti pasirah; jikalau hilang raja, pasirah mencarikan ganti raja.
Demikianlah isi perjanjian antara Baginda Maharaja sakti dengan keempat pasirah yang disaksikan oleh daulat seri Baginda maharaja Diraja di Pagar Ruyung, serta menteri empat balai. Kemudian kedua belah pihak, baik Baginda Maharaja sakti maupun keempat pasirah itupun sama-sama berikrar. “Kami bersumpah untuk memegang teguh selama-lamanya, tidak lapuk dihujan, tidak lekang dipanas, selama gagak hitam, selama air hilir, kalau lurah sama dituruni, kalau bukit sama didaki, hilang sama dicari, tenggelam sama diselami, bersumpah bersetia, minum air dituntung keris. Barang siapa mungkir dari perjanjian, dimakan kutuk bisa kawi, dikutuk Qur’an tiga puluh juz, di bawah tidak berakar, di atas tidak berpucuk, di tengah digerek kumbang, ke darat tak boleh makan, ke air tak boleh minum, jatuh murka Allah ta’ala dengan seberat-beratnya.” Setelah selesai bersumpah di balairung kampung dalam kerajaan Pagar Ruyung di hadapan tuanku Seri Maharaja Diraja, dan disaksikan pula oleh menteri empat balai, serta para hulubalang kerajaan, maka segeralah didirikan sebuah Alam Halipan yang dilengkapi dengan tunggul, dan panji-panji serta segala angkatan kerajan, pudai tinggi, bantal berapit kiri kanan, kain terbentang sampai ke atas, dilingkung pucuk beranyam, dayang-dayang sebanyak dua kali tujuh (empat belas) yang berdiri emas ditanai, juga terbentang cindai jajakan, serta dupa sebanyak dua kali tujuh (empat belas). Tak seberapa lama, dupa-dupa tersebut dinyalakan, gendang kalang luari dibunyikan, meriam seletus dipasang sebagai tanda penobatan raja. Selanjutnya, yang dipertuan Baginda Sultan Seri Maharaja Diraja di Pagar Ruyung segera memberikan sebelas tanda kebesaran kerajaan kepada Baginda Maharaja Sakti.
Adapun sebelas tanda kebesaran kerajaan itu ialah :
1. Dua buah meriam secorong besar dan satunya kecil;
2. Sebuah curik semandang giri retak seratus tiga puluh memancung sakti munuh, yang bentuknya seperti pedang;
3. Sebuah payung gedang berubur-ubur dengan kain kuning;
4. Sebuah tombak benderangan berambu janggut janggi;
5. Sebuah pedang jabatan;
6. Satu Alam Halipan;
7. Satu Marawal;
8. Satu panji;
9. Sebuah kotak tempat sirih berpakut emas;
10. Sebuah tempat air minum kendi berpalur emas ;
11. Sebuah gong mu’tabir alam.
Tatkala Baginda Maharaja Sakti menerima sebelas tanda kebesaran kerajaan dan berjabat tangan dengan daulat tuanku yang dipertuan di Pagar Ruyung, saat itulah bergetar puncak istana balairung, tempat penobatan sang Baginda hingga menimbulkan bunyi petus tunggal. Oleh karenanya, kelak dikemudian hari, marga bawaan dari baginda Maharaja sakti itu dinamai orang Marga Semitul.
Kembali ke Negeri Bangkahulu Tak seberapa lama setelah usai penobatan, maka berpamitanlah Baginda Maharaja sakti beserta para pengiringnya, serta keempat pasirah menuju negeri Bangkahulu. Empat menteri yang telah mengiring Baginda Maharaja Sakti ketika berkelana itu juga dibawanya turun ke negeri Bangkahulu. Mereka berempat masing-masing bernama: Menteri Agam, Menteri Sumpu Melalo, Menteri Singkarak, dan Menteri Sandingbaka (Sending Bungkah). Beberapa waktu kemudian, sampailah rombongan baginda Maharaja sakti di suatu kuala Sungai Lemau yang hulunya menuju Gunung Bungkuk. Maka mereka pun lalu berhenti berjalan melepas kelelahan. Di situlah kiranya rombongan Baginda sudah berada di wilayah negeri Bangkahulu yang terbentang luas. Setibanya di negeri Bangkahulu, keempat pasirah lalu mengumpulkan adik sanak kerabat serta segenap perowatin dan anak-buahnya di tiap-tiap dusun. Mereka segera menyambut kedatangan rajanya dengan suka cita dan menjamunya. Upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti sebagai raja di negeri Bangkahulu segera dipersiapkan. Akan tetapi ketika upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti hendak dimulai, tiba-tiba datang hujan badai yang amat kencang, disertai gemuruhnya sang halilintar menyambar-nyambar tiada henti-hentinya. Atas permufakatan bersama, upacara penobatan Baginda Maharaja Sakti untuk sementara ditunda menunggu redanya hujan badai, dan tenangnya hari.
Bidadari dari Gunung Bungkuk Hari telah berjalan tiga malam. Ternyata hujan badai yang disertai sambaran petir itu tak kunjung berhenti. Anehnya, pada malam harinya berturut-turut hingga malam ketiga, Baginda Maharaja Sakti bermimpi melihat seorang bidadari nan cantik jelita. Bidadari itu sedang menari-nari di tengah hujan badai. Baginda sungguh keheranan karena sang bidadari itu tiada terkena hujan barang sedikitpun jua. Kemudian sang bidadari itu terbang menuju ke arah Gunung Bungkuk. Pada keesokan harinya, Baginda Maharaja Sakti segera memanggil keempat pasirah. Lalu diceritakanlah tentang mimpinya yang amat menakjubkan. Baginda bertambah pikiran, dan amat terpikat oleh kecantikan bidadari dalam mimpinya. Baginda lalu meminta pendapat kepada keempat pasirah untuk mencarikan keterangan, apa makna dalam mimpinya itu. Mendengar penuturan sang baginda itu, keempat pasirah segera mengadakan permufakatan untuk mencarikan jalan keluarnya. Mereka berempat lalu sepakat untuk mencari seorang ahli nujum yang dapat meramalkan, gerangan apakah yang ada dalam mimpi rajanya itu. Maka, disuruhlah anak-buahnya untuk segera mencari seorang ahli nujum yang sakti. Tak seberapa kemudian, datanglah utusan itu menghadap keempat pasirah dengan membawa seorang ahli nujum. Kemudian oleh keempat pasirah, ahli nujum itu dihadapkan kepada Baginda Maharaja Sakti. Ahli nujum itupun segera bersembah diri. ”Ampun Baginda, hamba datang ingin menghadap duli Baginda, adakah gerangan yang hendak hamba terima titah Baginda?” Maka bertitahlah Baginda Maharaja Sakti: “Hai ahli nujum, tiadalah kiranya kubentangkan kata nan panjang di hadapan tuan, karena tuan pastilah telah membawa beritanya.” Ahli nujum pun menjawabnya, “Ampun ya Baginda, sungguh tiadalah hamba berani mendahului sabda tuanku, sebab takabur itu sifat yang sangat tidak baik bagi seorang hamba Allah.” Mendengar penuturan si ahli nujum itu, Baginda pun segera maklum, maka berceritalah Baginda Maharaja Sakti hal ikhwal tentang mimpinya itu. Ahli nujum itupun segera memberikan keterangan dihadapan Baginda Maharaja Sakti, perihal bidadari nan elok dan juwita itu. “Ampun hamba, ya Tuanku Baginda, adapun bidadari nan elok juwita yang mengganggu pikiran Baginda itu sesungguhnya adalah tuanku Putri Gading Cempaka, putri bungsu dari mendiang tuanku Baginda Ratu Agung di negeri Sungai serut. Kini tuan Putri Gading Cempaka masih berada di Gunung Bungkuk, tinggal bersama keenam saudara tuanya. Menurut ramalan hamba, Tuanku Baginda akan dapat mendirikan negeri Bangkahulu ini tegak kembali dengan selamat, bilamana tuanku dapat serta membawa tuanku Putri Gading Cempaka. Berdasarkan ramalan hamba, tuanku Putri Gading Cempaka inilah yang dapat menurunkan raja-raja di negeri ini, karena tuan Putri itu sesungguhnya anak daripada Ratu Agung jelmaan Dewa dari Gunung Bungkuk”. Betapa sukacitanya Baginda Maharaja Sakti mendengar uraian dari ahli nujum itu. Maka timbullah hasrat yang amat kuat dalam hati dan pikiran Baginda Maharaja Sakti untuk segera dapat meminang Putri Gading Cempaka. Sebab tatkala itu Baginda Maharaja Sakti memang belum memiliki calon permaisuri yang akan mendampinginya sebagai raja di negeri Bangkahulu.
Menjemput ke Gunung Bungkuk Setelah Baginda Maharaja Sakti mengadakan permufakatan dengan keempat pasirah, serta para menterinya itu, maka diputuskanlah untuk segera mengutus hulubalang menuju Gunung Bungkuk menjemput Putri Gading Cempaka beserta keenam saudara-saudaranya. Keempat pesirah beserta para perowatinnya itupun menjadi penunjuk jalan menuju Gunung Bungkuk. Pada hari yang dianggap baik, berangkatlah utusan dari Baginda Maharaja Sakti menuju Gunung Bungkuk. Tak seberapa lama, keempat pasirah dan segenap perowatin beserta para hulubalang utusan Baginda Maharaja Sakti itupun sampailah di kaki Gunung Bungkuk. Anak Dalam beserta keenam sudaranya yang tinggal di Gunung Bungkuk itu amatlah terkejut melihat dari kejauhan ada serombongan pasukan yang hendak menuju ke tempatnya. Ketujuh saudara itupun menjadi sangat cemas hatinya, dan takut kalau-kalau yang datang itu musuh. Maka segeralah Anak Dalam menyuruh si bungsu Putri Gading Cempaka untuk bersembunyi. Sementara itu Anak Dalam bersama dengan saudara-saudaranya yang lain siap menghadapi para tamunya yang tiada diundang itu. Betapa terkejutnya Anak Dalam beserta saudara-saudaranya itu, tatkala sudah saling berhadapan, ternyata para tamunya itu segera berlutut menghaturkan sembah. “Ampun diperbanyak ampun tuanku, hamba-hamba ini adalah utusan dari tuanku Baginda Maharaja Sakti, raja di negeri Bangkahulu. Adapun kedatangan hamba kemari tiada lain atas titah Baginda untuk menjemput tuanku Putri Gading Cempaka beserta tuan-tuan sekalian, serta hendak mengangkat tuan Putri Gading Cempaka menjadi permaisuri Baginda di negeri Bangkahulu.” Selanjutnya diceritakan bahwa Baginda Maharaja Sakti belum kuasa mendirikan kerajaannya, sebelum dapat bersanding dengan tuan Putri Gading Cempaka untuk mendampingi menjadi permaisurinya. Pasirah yang lain pun ikut melengkapi ceritanya, bahwa tatkala hendak mendirikan Alam Halipan untuk upacara penobatan sang raja, tiba-tiba datang hujan badai yang disertai halilintar yang amat menyeramkan. Bahkan selama tiga malam Baginda telah bermimpi melihat seorang bidadari nan cantik jelita sedang menari-nari ditengah hujan badai. Menurut salah seorang ahli nujum, bidadari nan cantik jelita itu tiada lain adalah tuanku Putri Gading Cempaka. Setelah mendengar penuturan dari salah satu pasirah, maka sangatlah lapang hati Anak Dalam beserta kelima saudara tuanya itu. Anak Dalam pun segera memanggil si bungsu Putri Gading Cempaka keluar dari tempat persembunyiannya. Ketujuh bersaudara itupun kemudian teringat akan pesan dari almarhum ayahnya, bahwa pada suatu waktu, akan datang seorang raja yang akan mengangkat si bungsu untuk menjadikannya permaisuri di kerajaannya. Ketujuh bersaudara iutpun kemudian menyetujui permohonan keempat pasirah utusan Baginda Maharaja Sakti. Maka, segeralah mereka bertujuh itu berkemas diri dengan membawa perbekalan secukupnya. Pad keesokan harinya, berangkatlah ketujuh bersaudara itu diiringi oleh keempat pasirah dan segenap perowatinya beserta hulubalang kembali menuju negeri Bangkahulu.
Berdirinya Kerajaan Sungai Lemau Tak seberapa kemudian sampailah utusan Baginda bersama dengan Putri Gadinga Cempaka dan keenam saudara-saudaranya di negeri Bangkahulu. Baginda Maharaja Sakti segera menyambut para tamunya dengan rasa sukacita. Maka segera dipersiapkan pesta besar-besaran untuk melangsungkan acara perkawinan antara Baginda Maharaja Sakti dengan Putri Gading Cempaka. Pada kesempatan yang sama juga dilangsungkan upacara penobatan sang Baginda Maharaja Sakti menjadi raja di negeri Bangkahulu, sedangkan tuan Putri Gading Cempaka duduk disampingnya menjadi permaisurinya. Tak seberapa lama kemudian, dibangunkannya sebuah istana kerajaan sebagai pusat pemerintahan serta kediaman Baginda dan permaisuri Putri Gading Cempaka. Adapun letak istana kerajaannya di kuala Sungai Lemau. Oleh sebab itu, maka nama kerajaan dari Baginda Maharaja Sakti itu kemudian disebut kerajaan Sungai Lemau. Dibawah pemerintahan Baginda Maharaja Sakti yang didampingi oleh tuanku Putri Gading Cempaka, negeri Sungai Lemau kian lama kian masyhur namanya. Kehidupan rakyatnya semakin bertambah makmur, negerinya amat subur. Padipun mudah menjadi, beras amatlah murah, anak-buahpun semakin berkembang banyak. Adat dengan lembaga berdiri kokoh. Adat yang dipakai , lembaga yang dituang, bak air mengarus hilir, adat mengarus mudik. Mengarut cupak dengan gantang, mengatur ukuran dengan timbangan.
Lahirnya Sang Putra Mahkota Beberapa bulan kemudian, tuan Putri Gading Cempaka itupun sudah mulai menujukkan tanda-tanda kehamilan. Maka tidak lama lagi Baginda dan permaisuri akan segera mendapatkan karunia seorang anak. Setelah bulan berjalan sembilan lebih sepuluh hari, Putri Gading Cempak kemudian melahirkan seorang putra laki-laki. Bukan kepalang girangnya Baginda Maharaja Sakti serta Putri Gading Cempaka setelah mendapatkan putra laki-laki yang mungil dan lucu itu. Maka pada hari yang baik segeralah Baginda Maharaja Sakti mengumpulkan segenap kerabat kerajaan, anak-buah serta para dayang untuk mengadakan upacara selamatan menyambut kelahiran putra mahkota negeri Sungai Lemau itu. Kemudian Baginda Maharaja Sakti memberinya nama : Aria Bago. Demikianlah ceritera Putri Gading Cempaka yang menurunkan raja-raja dinegeri Sungai Lemau.

by Kharida Dwi F (D1E008056)

Penyebab Indonesia Enggak Berkembang



Ehem,, akhirnya saya mau ngebahas sesuatu lagi nih. Mungkin ada yang udah tau, atau pun mungkin ada yang belum tau. Langsung aja nih, hehe .

Indonesia, negara kepulauan yang memiliki keanekaregaman hayati yang berlimpah, hasil hutan yang beraneka ragam, dan berjuta biota laut yang sangan indah. Itu lah indonesia. Namun, jika kita bertanya kepada orang – orang di luar negeri, apa itu indonesia, pasti jawabannya adalah, “Indonesia is Bali” atau pun “Indonesia is Jakarta”. Aduh aduh,, hehe :p

Memang benar, seperti itu lah kenyataannya. Orang – orang di luar negeri hanya mengetahui Bali dan Jakarta saja. Atau juga mengetahui beberapa kota lain, yang merupakan kota besar. Kalo demikian kenyataannya, bagaimana nasib kota – kota yang lainnya?

Selain itu, jika kita bertanya kepada anak – anak muda, mau jadi apa dia nanti, mungkin jawabannya berkisar dari mau jadi pengusaha sukses di Jakarta, mau ngerantau ke Jakarta mau mengadu nasib ke Jakarta, atau mau ke Ibu Kota. Ini bukan pernyataan yang saya buat – buat loh. Hal ini terbukti dengan terus bertambahnya penduduk Jakarta tiap tahunnya, dan besarnya jumlah orang pada arus balik, dari pada arus mudik lebaran. Kalo nggak percaya juga, tontonin aja berita waktu lebaran nanti. Hehe

Nah, apakah kalian tahu, apa penyebab sebenarnya dari permasalahan tersebut?

Menurut saya, permasalahan tersebut terjadi bermula dari pemerintahan Almarhum Bapak Suharto. Aduh, jangan sampai saya dikecam gara – gara tulisan saya ini >_<,, ampun pak!!

Lanjut aja ah, ^_^. Mengapa demikian? Karena di zaman pemerintahan Suharto, pembangunan di Indonesia dipusatkan di Jakarta. Padahal, pada pemerintahan sebelumnya, pemerintahan Almarhum Bapak Sukarno, pembangunan dilaksanakan secara merata. Pabrik – pabrik dibangun di berbagai daerah. Sangat berbeda dengan pemerintahan Suharto, pabrik – pabrik dipusatkan di Jakarta dan sekitarnya. (hehe, kayak azan magrib, untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, berbagai pabrik yang ada di Indonesia di pusatkan di Jakarta juga. Contohnya PT PAL yang semulanya berada di Ambon, sekarang berada di Pulau Jawa. Hal ini tentu saja membuat penduduk daerah kehilangan lapangan pekerjaan. Sehingga mereka berbondong – bondong pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ini juga lah yang membuat Jakarta sangat padat, macet, dan banjir. Hohoho ^_^ semua masalah saling berhubungan ya. Oleh karena semuanya dipusatkan di Jakarta, orang – orang yang datang dari luar negeri hanya berkunjung ke Jakarta dan sekitarnya, dan pempublikasian tentang Indonesia hanya di seputar Jakarta dan sekitarnya. Contohnya iklan Enjoy Jakarta, enggak ada kan iklan Enjoy Bengkulu?? Hehehe.

Haduh,, saya nggak mau membahas masalah ini terlalu panjang, hehe, takutnya nanti saya dikecam ^_^. Itu aja pembahasan dari saya, semoga bermanfaat. Dan kalo kalian memiliki pendapat yang berbeda, boleh juga kasi masukan dan komentar. Trima kasih

by Kharida Dwi F (D1E008056)

Dampak Kemajuan Teknologi bagi Pelajar

Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari. Hampir setiap saat ada saja penemuan baru di bidang teknologi atau sekedar menyempurnakan penemuan yang sebelumnya. Pada saat ini kemajuan teknologi telah menyentuh berbagai macam kalangan. Mulai dari anak-anak, anak muda, hingga orang dewasa. Dengan adanya kemajuan teknologi sangat memberikan pengaruh besar bagi kehidupan sehari-hari. Pengaruh yang ditimbulkan berupa dampak positif dan negatif. Kemajuan teknologi juga berpengaruh besar dalam pola pikir seseorang.

Kemajuan teknologi sangat memberikan kemudahan dalam belajar dan berkomunikasi. Salah satu keuntungannya adalah para siswa dapat membuat tugas dan mencari referensi lainnya di internet. Namun dibalik kemudahan lainnya, para siswa akan selalu menggantungkan tugasnya dengan menggunakan kemajuan teknologi seperti internet dan tidak semua tugas dapat dibuat dengan mengandalkan internet, karena dengan internet para siswa dapat membuat tugas secara instan tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu agar mudah dimengerti. Selain dapat digunakan untuk mencari tugas dan menambah ilmu pengetahuan seperti yang dikatakan narasumber yang kami wawancarai yaitu Lia, dengan kemajuan teknologi kita juga dapat berkomunikasi dengan seseorang dengan jarak jauh dengan menggunakan alat seperti handphone dan telepon biasa (rumah). Tidak hanya itu, di internet juga terdapat situs jaringan pertemanan yang sangat menghubungkan seseorang dengan yang lainnya dengan sangat mudah tanpa dikenakan biaya yang besar.

Masyarakat umum lainnya mengatakan kemajuan teknologi membawa banyak efek bagi mereka, misalnya pada saat ini banyak warnet yang ramai dikunjungi oleh pelajar dan counter handphone yang hampir setiap hari bertambah pemasukannya.

Para pelajar saat ini sangat antusias dan tertarik dengan kemajuan teknologi karena dengan kemajuan teknologi dapat mempermudah mereka dalam mencari tahu berbagai macam informasi sesuai dengan yang mereka butuhkan. Untuk mendapatkan informasi pun tidak membutuhkan banyak waktu. Selain itu berkembangnya alat telekomunikasi seperti handphone, membuat mereka dapat melakukan komunikasi dan mengakses internet dimana saja mereka berada. Kemajuan teknologi juga memberikan hiburan untuk para pelajar seperti dengan menggunakan game online, situs jaringan pertemanan, shopping online. Kemudahan-kemudahan itu yang membuat pelajar sangat tertarik dengan kemajuan teknologi.

Dengan kemudahan seperti itu memberikan dampak negatif yang sangat besar. Yang mana pada saat ini sangat terlihat yaitu moral pelajar. Kesadaran mereka untuk belajar mendiri tanpa menggantungkan tugas pada teknologi sudah mulai pudar. Selain Itu jumlah siswa yang bolos makin bertambah karena di otak mereka hanya terfikir internet dan internet. Warnet pun menjadi tempat tongkrongan para pelajar pada saat ini yang tidak mengenal waktu dari pagi hingga malam hanya untuk sekedar menghabiskan waktu dengan memainkan game online dan sebagainya.

Bahkan yang lebih parah lagi, banyak pelajar yang saat ini membuka situs-situs terlarang yang membuat rusaknya moral para pelajar dan mengubah cara pergaulan mereka yang tidak kenal waktu dan menjadi lebih bebas.

Menurut beberapa siswa dan masyarakat umum lainnya, untuk menghadapi kemajuan teknologi yang memberikan dampak terhadap moral pelajar dimulai pada diri seseorang itu sendiri dengan mana hal positif yang dapat mereka ambil dan membuang hal-hal yang negatif yang dapat merusak moral mereka sendiri. Selain itu, juga diperlukan pengawasan dari orang tua dengan anaknya dengan memberikan bimbingan dan pengertian khusus kepada anaknya tentang kemajuan teknologi dan dampaknya. Iman yang kuat juga dibutuhkan karena itulah dasar untuk menghindari perbuatan- perbuatan tercela yang dapat merusak moral.


by Kharida Dwi F (D1E008056)

Kamis, 29 Juli 2010

Mobile Phone dan Pornografi

Nonton reality show memeng seru ,tapi kalau reality show yang ditonton adalah video pribadi seseorang yang mengandung pornografi yang tanpa sengaja bocor hingga bias diakses orang banyak ??? Hmmmm. . .better think again !! yang pasti , kejadian yang belum lama ini bikin heboh mengundang banyak kritik pedas dan hinaan .tapi yang bikin Saya sedih !! video ini sampai beredar kesekolah-sekolah sampai pihak kepolisian ikut turun tangan untuk menghentikan peredaran video dengan cara melakukan razia di berbagai sekolah.Hasilnya?Banyak pelajar yang tertangkap memiliki video porno di ponselnya.Orangtua mereka pun dipanggil pihak sekolah.Ketua Komisi Nasional perlindungan anak,arist merdeka sirait,menggatakan bahwa anak-anak sekolah jadi korban dari pengaruh peredaran video porno dan kembali menjadi korban saat kena razia aparat polisi.

Makin ramainya berita di media cetak dan elektronik justru makin membuat penasaran orang-orang yang belum melihat video tersebut. Bagaimana imbasnya dengan Negara kita sendiri??? Ramainya video ini sempat menjadi trending topick no 1 di Twwiter selama 2 hari berturut-turut. Beberapa media di Negara asingpun sampai membuat beritanya. Intinya,,, Nama baik Negara kita jadi perlu di make –over lagi deh!!!

Di saat seperti ini , kita punya pilihan girls,!!memutuskan untuk larut dalam kehebohan kejadian ini , menghakimi pelaku ,menyebarkan video ,atau sekedar bergosip ria-yang tentunya gx akan menyelesaikan masalah ,atau ambil pelajaran dari perkara itu supaya kita tidak melakukan kesalahan seperti itu dan memutuskan tetap focus menjaga diri supaya selalu dijalur yang terbaik untuk masa depan kita dan Indonesia.

By ,,Fiki Burki

NPM : D1EOO8047

By,,Fiki Burki

NPM :D1E008047

From WikipediA

Sejarah perkembangan Telepon genggam

Telepon genggam (disingkat telgam) seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Saat ini Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System for Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access).

Fungsi dan fitur

Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service, SMS). Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. Sekarang, telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (MP3) dan video, kamera digital, game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G). Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Jadi di ponsel tersebut, orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis, fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat.

Perkembangan Mobile Phone

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Handie-talkie SCR536

Sejarah penemuan telepon seluler tidak lepas dari perkembangan radio. Awal penemuan telepon seluler dimulai pada tahun 1921 ketika Departemen Kepolisian Detroit Michigan mencoba menggunakan telepon mobil satu arah. Kemudian, pada tahun 1928 Kepolisian Detroit mulai menggunakan radio komunikasi satu arah regular pada semua mobil patroli dengan frekuensi 2 MHz. pada perkembangan selanjutnya, radio komunikasi berkembang menjadi dua arah dengan ‘’frequency modulated ‘’(FM).

Tahun 1940, Galvin Manufactory Corporation (sekarang Motorola)mengembangkan portable Handie-talkie SCR536, yang berarti sebuah alat komunikasi di medan perang saat perang dunia II. Masa ini merupakan generasi 0 telepon seluler atau 0-G, dimana telepon seluler mulai diperkenalkan.

Setelah mengeluarkan SCR536,kemudian pada tahun 1943 Galvin Manufactory Corporation mengeluarkan kembali partable FM radio dua arah pertama yang diberi nama SCR300 dengan model backpack untuk tentara U.S. Alat ini memiliki berat sekitar 35 pon dan dapat bekerja secara efektif dalam jarak operasi 10 sampai 20 mil.

Sistem telepon seluler 0-G masih menggunakan sebuah sistem radio VHF untuk menghubungkan telepon secara langsung pada PSTN landline. Kelemahan sistem ini adalah masalah pada jaringan kongesti yang kemudian memunculkan usaha-usaha untuk mengganti sistem ini.

Generasi 0 diakhiri dengan penemuan konsep modern oleh insinyur-insinyur dari Bell Labs pada tahun 1947. Mereka menemukan konsep penggunaan telepon hexagonal sebagai dasar telepon seluler. Namun, konsep ini baru dikembangkan pada 1960-an.

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Telepon seluler generasi 1G

Telepon seluler generasi pertama disebut juga 1G. 1-G merupakan telepon seluler pertama yang sebenarnya. Tahun 1973, Martin Cooper dari Motorola Corp menemukan telepon seluler pertama dan diperkenalkan kepada public pada 3 April 1973. Telepon seluler yang ditemukan oleh Cooper memiliki berat 30 ons atau sekitar 800 gram. Penemuan inilah yang telah merubah dunia selamanya. Teknologi yang digunakan 1-G masih bersifat analog dan dikenal dengan istilah AMPS. AMPS menggunakan frekuensi antara 825 Mhz- 894 Mhz dan dioperasikan pada Band 800 Mhz. Karena bersifat analog, maka sistem yang digunakan masih bersifat regional. Salah satu kekurangan generasi 1-G adalah karena ukurannya yang terlalu besar untuk dipegang oleh tangan. Ukuran yang besar ini dikarenakan keperluan tenaga dan performa baterai yang kurang baik. Selain itu generasi 1-G masih memiliki masalah dengan mobilitas pengguna. Pada saat melakukan panggilan, mobilitas pengguna terbatas pada jangkauan area telpon seluler.


http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Generasi kedua atau 2-G muncul pada sekitar tahun 1990-an. 2G di Amerika sudah menggunakan teknologi CDMA, sedangkan di Eropa menggunakan teknologi GSM. GSM menggunakan frekuensi standar 900 Mhz dan frekuensi 1800 Mhz. Dengan frekuensi tersebut, GSM memiliki kapasitas pelanggan yang lebih besar. Pada generasi 2G sinyal analog sudah diganti dengan sinyal digital. Penggunaan sinyal digital memperlengkapi telepon seluler dengan pesan suara, panggilan tunggu, dan SMS. Telepon seluler pada generasi ini juga memiliki ukuran yang lebih kecil dan lebih ringan karena penggunaan teknologi chip digital. Ukuran yang lebih kecil juga dikarenakan kebutuhan tenaga baterai yang lebih kecil. Keunggulan dari generasi 2G adalah ukuran dan berat yang lebih kecil serta sinyal radio yang lebih rendah, sehingga mengurangi efek radiasi yang membayakan pengguna.

Generasi III

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/0/0b/Ponsel2007.jpg/220px-Ponsel2007.jpg

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Ponsel 3-G

Generasi ini disebut juga 3G yang memungkinkan operator jaringan untuk memberi pengguna mereka jangkauan yang lebih luas, termasuk internet sebaik video call berteknologi tinggi. Dalam 3G terdapat 3 standar untuk dunia telekomunikasi yaitu Enhance Datarates for GSM Evolution (EDGE), Wideband-CDMA, dan CDMA 2000. Kelemahan dari generasi 3G ini adalah biaya yang relater lebih tinggi, dan kurangnya cakupan jaringan karena masih barunya teknologi ini.

Generasi IV

Generasi ini disebut juga Fourt Generation (4G). 4G merupakan sistem telepon seluler yang menawarkan pendekatan baru dan solusi infrstruktur yang mengintegrasikan teknologi wireless yang telah ada termasuk wireless broadband (WiBro), 802.16e, CDMA, wireless LAN, Bluetooth, dlll. sistem 4G berdasarkan heterogenitas jaringan IP yang memungkinkan pengguna untuk menggunakan beragam sistem kapan saja dan dimana saja. 4G juga memberikan penggunanya kecepatan tinggi, volume tinggi, kualitas baik, jangkauan global, dan fleksibilitas utnuk menjelajahi berbagai teknologi berbeda. Terakhir,4G memberikan pelayanan pengiriman data cepat untuk mengakomodasi berbagai aplikasi multimedia seperti, video conferencing, game on-line , dll.

Rabu, 28 Juli 2010

komersialisasi dan internet

ANAK DAN INTERNET

Bagaimana cara menjaga anak dari teknologi dan bahaya pornografi ?????

Ada dua cara , yakni orang tua melakukan pendampingan dan pendidikan media terhadap anak-anak , remaja,serta orang tua.

Orang tua harus lebih waspada dalam mengawasi teknologi yang digunakan anak-anak,

Pemerintah juga harus lebih berperan dan aparat menindak pelanggaran dan kejahatan cyber .pendidikan media akan memberikan keterampilan pada orang tua dan anak tentang pentingnya melek media.sehingga kita tidak hanya pintar mengakses media ,tetapi juga kritis terhadap apa yang terdapat dimedia dan bisa mengakses media secara sehat.kritis terhadap media,artinya kita bisa memilih dan memilah hanya yang bermanfaat yang akan diakses dan menolak konten media yang buruk.pendidikan media sedang didorong agar masuk kedalam kurikulum pendidikan ,sejak PAUD hingga pendidikan menengah.karena saat ini kitatidak mungkin hidup tanpa teknologi dan media.

Untuk penggunaan HP Pada anak-anak.

Jangan memberikan HP terlalu canggih kepada anak-anak.Jika kebutuhannya hanya untuk berkomunikasi dengan orang tua .berikan HP yang fungsinya hanya untuk telepon dan sms kecuali jika anak sudah melek media boleh saja diberikan HP canggih.tetapi tetap harus sering dikontrol ,misalnya dengan memeriksa fiture history pada layanan internetnya secara berkala.

Tugas perkembangan teknologi komunikasi,,

Hari Kamis , 29 juli 2010.

Tentang komersialisasi dan internet

By ,,fiki Burki

Npm,,D1EOO8047

Selasa, 27 Juli 2010

Anak dan Internet



Internet merupakan rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Manakala Internet ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking.
Seperti yang kita ketahui, jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan
mesin pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran(decentralization) / pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrim. Perkembangan Internet juga telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Berbagai transaksi jual beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka (dan sebagian sangat kecil melalui pos atau telepon), kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui Internet.
Dari yang muda, sampai yang tua sepertinya tidak mau ketinggalan menggunakan internet. Hal ini seakan – akan membentuk suatu budaya internet, dimana berbagai informasi dapat dicari dengan mudah melalui jaringan ini.
Apalagi, pada zaman sekarang, sudah banyak sekolah yang menyediakan layanan internet gratis bagi siswanya, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Hal ini menyebabkan internet dapat dimanfaatkan oleh para siswa dimana pun mereka berada. Walau pun tidak semua sekolah memiliki jaringan internet.
Tidak hanya itu, warung internet, tempat yang menyewakan fasilitas internet, sekarang sudah menjamur dimana – mana. Ditambah lagi, adanya hotspot dan layanan internet pada handphone. Hal ini tentu saja yang membuat banyak kalangan tidak menganggap internet adalah hal yang mewah dan langka.
Seiring dengan kemajuan teknologi, banyak anak – anak yang sering memanfaatkan jaringan internet untuk mencari informasi atau pun sekedar untuk bersenang – senang, seperti mengakses game online, atau pun mengikuti jejaringan sosial. Tapi tentu saja, hal ini akan membawa dampak bagi anak tersebut, baik dampak negative, maupun positive.
Mengapa demikian?Saya dapat mengatakan hal tersebut karena, usia anak – anak, merupakan usia yang sangat rentan. Apa lagi, usia anak – anak merupakan tangga dasar dalam membentuk jenjang kepribadian seseorang.
Menurut Erickson dalam Tahap – Tahap Perkembangan Psikososial, apa pun stimuli yang diterima oleh seorang anak, akan membekas dan secara aktif akan diterima ti otaknya. Apalagi pada usia anak – anak merupakan usia yang rentan dimana seorang anak akan mengalami pembentukan identitas yang tentu saja akan dipengaruhi oleh hal – hal di sekitarnya.
Coba bayangkan jika stimuli yang diterima merupakan hal – hal berbau negative dan tidak mendidik yang dibacanya saat sedang mengakses situs di internet. Tentu saja itu akan mempengaruhi perkembangannya. Bias saja ia akan ikut terbawa hal –hal tersebut. Disinilah peran orang – orang terdekatnya diutamakan. Terutama orang tuanya.Orang tua harus mampu membimbing dan terus mengawasi anak – anaknya agar tidak terjerumus dalam lembah hitam atau dampak negative dari internet. Orang tua harus mampu mengarahkan anak – anaknya untuk menggunakan internet dengan baik dan tidak melanggar norma, demi kebaikan si anak itu sendiri.
by Kharida Dwi F. (D1E008056)

Jumat, 23 Juli 2010

Berpacaran, Belum Tentu Sebuah Human Relations


Berpacaran, atau biasanya lebih gaul kalo disebut ngedate,, khehehe, merupakan hal yang gak tabu lagi dikalangan remaja. Bener apa enggak?? Betul aja, hehehe. Tapi emang bener lo, anak kecil aja sekarang udah pada pacaran... aduh aduh.. khekhe :D.

Emang gak bisa dipungkirin, zaman sekarang emang udah beda jauh dari zaman dulu, hoho,, zamannya ortu kita lagi asik main surat - suratan,, (jadul mode: on). Bandingkan aja di zaman sekarang, orang berpacaran gak cuma surat - suratan. Kan dah ada hape,, hahahaha :)

Ehem,, tapi di tulisan saya kali ini bukan ngebahas tentang cara berpacarannya, tapi cara masing - masing pasangan bersikap. hoho,, mungkin pada bingung:) tapi ini pengalaman pribadi loh..

Begini ceritanya, waktu itu saya lagi asik makan siang dengan temen. Nah di samping meja kami, ada sepasang kekasih yang tengan dilanda asmara juga pengen makan siang. Awalnya kami biasa aja sih ngeliatinnya, tapi tau tau ada yang lucu,, xixixi:) Mereka pesen ayam bakar. Kalian semua pasti udah tau dong gimana cara makan ayam bakar yang baik dan benar. Nah beda sama pasangan ini. Yang cowok sih udah bener, doi cuci tangan dan tinggal nyantap aja. Tapi si cewek ternyata gak cuci tangan. Dia ngambil sendok, ama garpu. Waduh waduh,, saking jaimnya kali ya??

Saya pikir sih, si ceweknya itu emang jago banget makan ayam bakar pake sendok garpu. Ternyata eh ternyata,, kelihatan banget kalo dia kesulitan. Bayangin aja, kita yang pesenannya datang belakangan sekarang udah pada ngabisin makanan, nah dia masih sibuk ngukir nama di ayam:D. hahahaaaaay.. Belum lagi bunyi nya itu loh. tuk, clentang, tuing tuing (gak gitu gitu juga kalee)

Dua pasangan ini saya nilai kompak banget dah,, hehe, kompak ngukir ayam pake sendok ama garpu. hehe. Hingga pada akhirnya, si cowok kanyaknya nyerah. Doi langsung cuci tangan lagi dan nyantap pake tangan. Sementara si cewek masih asik ngukir ayam bakar. Hahahaaai mau dibikin prakarya kali tuh ayam bakar :D.

Ssssst...!!! udah ah ngomongin orang. Nah, menurut saya, hal kayak gini nih masih sering terjadi pada pasangan - pasangan lainnya. ('n so do i, hehe:D) Seharusnya kalo emang kita saling cinta, pastinya kita bisa saling nerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita. gak perlu lebay kayak gitu tadi. hoho..

Selain itu, menurut saya, pada pasangan seperti ini belum memiliki human relation antara keduanya. Seperti yang telah kita pelajari pada mata kuliah Human Relations, human relation merupakan suatu kondisi antara dua orang atau lebih dimana terjadi suatu hubungan yang baik antara masing - masing pihak, saling pengertian, saling melengkapi, saling memahami, saling terbuka, dan terjadi kepuasan pada masing - masing pihak. Hubungan seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Namun belum tentu beberapa orang yang terlihat akrab memiliki human relation. Sepasang suami istri pun belum tentu sebuah human relation. Pernyataan saya tersebut berlaku jika pasangan suami istri tersebut tidak saling memahami, tidak saling terbuka, dan tidak ada kepuasan diantara keduanya. (Ehem!! Jangan negatif dulu ngartiin kata "kepuasan" :)) Kepuasan di sini maksudnya rasa puas, lega, tenang, bahagia, dan lain-lain. Kepuasan dalam lingkup psikis, mental, dan hati. jika sepasang suami istri hanya sebatas melaksanakan kewajibannya sebagai suami dan istri, tanpa saling terbuka dan tanpa ada hubungan yang lebih jauh di antara keduanya, maka hubungan mereka bukanlah sebuah Human Relations. Sama halnya dengan kisah pacaran yang tadi kan?? hehe Menurut kalian gimana??


by Kharida DF (D1E008056)